Selasa, 26 Maret 2013

Stembayo, Bukan Sekadar Bahan Atau Angka-Angka


SEKOLAH, dalam kata-kata Rabindranath Tagore -seorang penyair dan pemikir India yang mendapatkan Nobel Prize di bidang sastra pada tahun 1913-, adalah “pabrik pendidikan”. Memang tak ada cerobong asap yang hitam, tak ada pula deru mesin yang muram. Tapi kata “pabrik” dalam ungkapan Tagore, melukiskan sesuatu yang sangat tidak enak: benda modern yang begitu kaku, bagitu keras. Dan mencapekkan. Apakah kata-kata itu berlaku di tanah air kita?

Dunia pendidikan di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari sejarah. Sejak zaman kolonial Belanda, pimpinan rakyat menyadari akan keterbelakangan rakyatnya di bidang pendidikan. Karena pada masa itu banyak dijumpai orang buta huruf sehingga kesulitan untuk berkomunikasi. Maka di tahun 1946 dan 1951 dimulailah usaha pemberantasan buta huruf itu, meski dari hasil sensus dinyatakan gagal. Lalu di tahun-tahun berikutnya mulai dikembangkan program-program pendidikan untuk menekan tingginya angka tuna aksara.


1969/1970 merupakan awal dimulainya PELITA I (Pembangunan Lima Tahun Pertama) memberikan pemikiran untuk mengadakan perubahan pada sistem pendidikan nasional, utamanya pada Sekolah Teknologi Menengah. Melalui Proyek Perintis Sekolah Teknologi Menengah Pembangunan yang ditetapkan oleh Menteri P&K, sekolah-sekolah teknologi dengan jenjang pendidikan 4 tahun dibangun di berbagai kota besar di Indonesia. Proyek berskala nasional inilah yang menjadi cikal berdirinya Sekolah Teknologi Menengah Pembangunan Yogyakarta yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 29 Juni 1972. Yaitu sekolah kejuruan yang menjadi kebanggaan kita selama ini dengan sebutan Stembayo. Stembayo adalah sekolah ketiga yang diresmikan secara langsung oleh Presiden RI setelah STMP di Jakarta dan Semarang, lalu diikuti STMP di kota-kota lain seperti Surabaya, Ujung Pandang, Bandung, Pekalongan dan Temanggung.

Di usianya yang mencapai genap empat puluh satu tahun pada akhir Juni mendatang, Stembayo kini telah berganti nama menjadi SMK Negeri 2 Depok Sleman Yogyakarta berdasarkan Surat Kepmen Depdikbud No. 0034/0/1997 tentang Perubahan Nomenklator tertanggal 7 Maret 1997. Meski begitu tidak membuat pamor Stembayo surut begitu saja, justru semakin getol menorehkan prestasi gemilang dalam berbagai ajang kompetisi baik di lingkup kabupaten, provinsi, nasional sampai internasional. Tentunya menjadi kebanggaan tersendiri karena kontingen Stembayo selalu berhasil memborong predikat juara. Inilah yang akhirnya membawa nama Stembayo dikenal dan disegani sekolah-sekolah setingkat dengannya.

Semenjak awal berdiri, Stembayo memang telah mendapat sambutan hangat dari dunia industri tanah air. Banyak jebolan sekolah ini yang bekerja di berbagai perusahaan/industri terkenal yang tersebar dari Sumatera sampai Irian Jaya. Hal ini menandakan eksistensi Stembayo sebagai institusi pencetak SDM yang mumpuni di bidangnya tidak dapat diragukan lagi bahkan sudah mendapat tempat istimewa di mata industri. Maka tidak heran jika perusahaan-perusahaan tersebut berlomba-lomba memburu siswa ataupun alumni Stembayo untuk dipekerjakan, yang sampai saat ini tercatat sekitar tiga puluh perusahaan/industri berskala besar pengguna lulusan Stembayo.

Tak ayal Stembayo menyandang sebagai sekolah favorit dengan program studi terbanyak di Yogyakarta, yakni berjumlah sembilan program studi. Dan untuk penerimaan siswa baru tahun 2012 yang lalu, lagi-lagi Stembayo menggebrak dunia pendidikan dengan membuka dua program studi baru sekaligus yaitu, Teknik Pengolahan Migas dan Petrokimia dan Teknik Kendaraan Ringan. Sembilan program studi itu meliputi, Teknik Gambar Bangunan, Teknik Komputer Jaringan, Teknik Audio Video, Teknik Otomasi Industri, Teknik Pemesinan, Teknik Perbaikan Bodi Otomotif, Kimia Industri, Kimia Analis, dan Geologi Pertambangan. Begitu pesatnya perkembangan iptek sehingga menuntut Stembayo turut melebarkan sayapnya dengan membuka program studi baru yang semakin variatif, yang nantinya diharapkan mampu menyedot panggung perhatian dunia industri untuk mengincar lulusan Stembayo.

Dalam perjalanannya menuju sekolah bertaraf internasional Stembayo juga telah mengantongi sertifikat Sistem Managemen Mutu ISO 9001:2008. Sebegitu rapinya sistem managemen sekolah ini sehingga mengantarkan Stembayo ke dalam daftar SBI Invest, yang lagi-lagi dinobatkan sebagai salah satu sekolah percontohan (sekolah model) di Indonesia. Tak cukup sampai di situ Stembayo juga mendapatkan predikat sebagai sekolah dengan pendidikan karakter bangsa terbaik se-Yogyakarta. Dari sederet prestasi tersebut Stembayo bahkan mampu memenangi bantuan uang pembangunan sarana dan prasarana dengan jumlah fantastis yang diberikan oleh Asian Development Bank untuk sekolah terbaik di Indonesia di tahun 2011 lalu. Tidaklah heran jika pembangunan gedung-gedung baru dan perbaikan fasilitas sekolah selalu mewarnai hari-hari belajar di Stembayo.

Berdiri di atas tanah seluas 42.077 m2 menjadikan sekolah ini mampu mengembangkan dan menata fasilitas sekolah secara maksimal, baik itu dari segi gedung, lapangan olah raga, sampai rumput hijau di setiap petak kecil di sana-sini. Selain itu juga tersedia sekitar 21 ekstrakulikuler (wajib dan pilihan) yang dikelola dengan baik di bawah naungan organisasi sekolah maupun siswa. Bahkan tidak tanggung-tanggung sekolah mendukung sepenuhnya kegiatan ekstrakulikuler tersebut dalam hal finansial, pelatih/pembimbing dan fasilitas lainnya. Sebuah bentuk kesinambungan yang baik untuk mencapai tujuan yang baik pula.

Di balik kesuksesan yang telah diraihnya, ibarat kapal di tengah lautan yang sedang berlayar, Stembayo juga mengalami pasang surut yang sama, mengikuti arus zaman dengan segala tuntutannya. Mari kita sekadar menilik dan menimbang-nimbangnya dalam pandangan yang lebih luas terhadap keadaan pendidikan di Indonesia. Kritik itu bukan saja karena anak-anak belajar tanpa kegembiraan. Pendidikan kita mengalami krisis efisiensi. Ada pretensi untuk mampu memberikan sebanyak-banyaknya, tapi hasilnya?

Ambil saja contoh mata pelajaran Bahasa Inggris. Di Indonesia, Bahasa Inggris merupakan bahasa asing pertama, dan diajarkan selama lebih dari enam tahun di sekolah. Guru yang dididik untuk itu cukup banyak. Buku pegangan yang dicetak hampir tanpa putus. Ford Foundation bahkan pernah ikut membantu pembiayaan pendidikan yang satu ini. Namun apa akhirnya? Selepas SMK/SMA, anak-anak tetap saja macet dalam memakai bahasa itu-kecuali untuk menirukan para penyanyi. Kursus-kursus tambahan pun berkembang biak: industri baru menunjukkan gagalnya proyek enam tahun yang merayap di bangku sekolah.

Meski sebabnya yang persis perlu ditelaah, satu hal jelas: pendidikan sekolah di Indonesia mengalami krisis efisiensi. Pengajaran bahasa Inggris yang gagal itu mungkin metodenya keliru, tetapi lebih mungkin lagi karena siswanya tak pernah dapat belajar secara intensif. Konsentrasi mereka jadi nanar menghadapi kurikulum seperti kurikulum 75. Mereka harus menelan sekitar 15 mata perlajaran seminggu, tanpa pilih bulu.

Boleh jadi bila berbagai resep pendidikan ternyata keliru, pada saat ia dipakaikan. Tak mengherankan bila para menteri pendidikan sendiri pun, silih berganti, merasa tak puas dengan keadaan pendidikan formal yang ada. Menteri A mencoba mengubah x, lalu datang Menteri B yang mencoba memperbaiki y. Dan seterusnya: suatu niatan mulia untuk mengoreksi, tapi sekaligus mungkin juga suatu petunjuk bahwa para orangtua dan ahli pendidikan mungkin sudah lama tak ingat bahwa anak-anak bukan sekadar bahan, angka, atau masalah.

        Tapi toh sering terasa, sekolah tidak ditampilkan sebagai persoalan anak-anak, melainkan anak-anak yang dianggap merupakan persoalan sekolah. Dan tak jarang institusi yang disebut Tagore “pabrik pendidikan” itu telah mengambil alih posisi: bukan sekolah itu yang merupakan kepentingan anak, melainkan si anak yang merupakan kepentingan sekolah. Sekolah adalah segala-galanya, dan terutama: sekolah adalah kekuasaan.
Praktisnya –demi target di akhir tahun ajaran- berlakunya suatu doktrin yang tersembunyi: bahwa hanya di laci gurulah tersedia jawab yang benar, dan bahwa sekolah bukanlah tempat untuk mencicipi indahnya seni dan asyiknya ilmu. Tak heran bila banyak anak muda Indonesia mudah jatuh ke dalam pernyataan yang strereotip atau tak cukup kritis kepada agitasi yang menghimbau. Mereka sudah lama tak berniat menemukan cara sendiri.

        Niat mencari sendiri yang tak dihidupkan itulah yang antara lain menyebabkan siswa sangat tergantung pada sekolah lanjutan di atasnya, begitu guru mereka membagi-bagikan ijazah akhir. Dan ketika ketergantungan itu sampai pada akhir perguruan tinggi, suatu wajah baru pun nongol: sekolah seakan-akan sekadar lembaga yang bisa memperpanjang status “belum dewasa”.

Hidup hanya menunda kekalahan, kata Chairil Anwar. Kita pun takut pendidikan sekolah akhirnya hanya menunda pengangguran. Tapi adakah anak-anak tahu, adakah mereka sadar –lalu resah ataupun cari akal– tak seorang pun tahu pasti. Karena itulah tak ada jeleknya kita bertanya dan mereka mencoba menjawab.

Barangkali spekulasi tadi yang terus berkembang di tengah hiruk pikuk dan gonjang-ganjing dunia pendidikan di Indonesia, yang kadangkala menggelitik pikiran kita sendiri. Lalu sejauh mana pendidikan di Stembayo ini kita dibawa? Sebuah pertanyaan yang tak terduga namun sulit untuk dijawab. Saya, anda, mereka atau siapapun itu boleh angkat bicara untuk menjawabnya. BRAVO STEMBAYO, BRAVO PENDIDIKAN DI INDONESIA!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar